728 x 90

CFI INDONESIA DORONG PENGUATAN KAPASITAS NELAYAN UNTUK SUKSESKAN KNMP DAN MBG DI RAJA AMPAT

Raja Ampat - cfi-indonesia.id. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kembali menggandeng Dinas Perikanan Kabupaten Raja Ampat dan Program GEF-6 Coastal Fisheries Initiative (CFI) Indonesia untuk menyelenggarakan rangkaian pelatihan penguatan kapasitas nelayan "Bimbingan Teknis (Bimtek) Kelembagaan Usaha, Manajemen Keuangan dan Pemasaran Prodak". Kegiatan yang berlangsung pada 6–8 November 2025 ini dipusatkan di Raja Ampat sebagai bentuk dukungan terhadap Program Nasional Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Foto Bersama Wakil Bupati Raja Ampat Mansyur Syahdan, Direktur WWF US GEF Agency Heike Lingerta, PMU GEF 6 CFI Indonesia dan 60 Peserta Bimtek Kelembagaan Usaha, Manajemen Keuangan dan Pemasaran Prodak, Raja Ampat (6/11/2025) 

Sebanyak 60 peserta, terdiri dari laki-laki dan perempuan, mengikuti pelatihan ini. Mayoritas peserta berasal dari Kampung Warmasen sebagai lokasi KNMP, serta kampung-kampung sekitarnya. Sejumlah pejabat turut hadir, antara lain Wakil Bupati Raja Ampat, Direktur Pengelolaan Sumber Daya Ikan (PSDI) KKP, perwakilan WWF US GEF Agency, serta tim PMU GEF-6 CFI Indonesia.

Kekayaan Laut Melimpah, Tantangan Pengelolaan Nyata

Wakil Bupati Raja Ampat Mansyur Syahdan, yang hadir dan membuka kegiatan secara langsung, menegaskan bahwa Raja Ampat memiliki salah satu potensi laut terbaik di Indonesia. Ikan melimpah, kawasan perairan sehat, dan ekosistem terjaga membuat daerah ini menjadi daya tarik bahkan bagi nelayan dari luar daerah.

Dengan gaya bercanda, Mansyur menggambarkan betapa suburnya laut Raja Ampat:
“Masalah ikan, nelayan yang datang mancing dapat hasil banyak. Sampai umpan habis, malah ikannya bertanya—masih ada umpan kah?” ujarnya disambut tawa peserta.

Wakil Bupati Raja Ampat Mansyur Syahdan, hadir dan membuka kegiatan Bimtek Kelembagaan Usaha, Manajemen Keuangan dan Pemasaran Prodak, Raja Ampat (6/11/2025) 

Namun, menurutnya kekayaan laut bukan hanya soal hasil tangkapan. Bagaimana ikan dikelola, diolah, dan dipasarkan secara profesional adalah tantangan yang harus dijawab. Di sinilah peran UMKM perikanan menjadi sangat strategis dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memperkuat ekonomi daerah.

“Bimbingan teknis ini merupakan langkah konkret memperkuat kapasitas pelaku UMKM perikanan. Kelembagaan usaha yang solid, manajemen keuangan yang tertib, dan strategi pemasaran yang efektif merupakan tiga pilar fundamental bagi usaha yang ingin tumbuh berkelanjutan,” tegasnya.

Kolaborasi Multipihak untuk Transformasi Nelayan dan UMKM

Pemerintah Kabupaten Raja Ampat mengapresiasi kolaborasi antara Dinas Perikanan dan GEF-6 CFI Indonesia. Menurut Mansyur, kerja sama lintas lembaga sangat diperlukan untuk mempercepat transformasi UMKM perikanan dari pola tradisional menuju usaha yang modern dan berdaya saing.

Direktur Pengelolaan Sumber Daya Ikan (PSDI) Syahril Abd. Raup memantau secara langsung kegiatan Bimtek Kelembagaan Usaha, Manajemen Keuangan dan Pemasaran Prodak, Raja Ampat (6-8/11/2025) 

Ia mendorong peserta untuk aktif bertanya dan menyerap ilmu sebanyak mungkin dari para narasumber. Pengetahuan tentang pembukuan, struktur organisasi, hingga strategi pemasaran disebut sebagai fondasi penting dalam meningkatkan kapasitas usaha masyarakat pesisir.

“Dengan kearifan lokal, ditambah teknologi dan manajemen modern, saya yakin produk perikanan Raja Ampat mampu menembus pasar lebih luas, bahkan hingga mancanegara,” tambahnya.

Pengenalan Konsep Sasi Label: Nelayan Terlatih, Produk Berkualitas

Project Manager GEF-6 CFI Indonesia Adipati Rahmat turut memaparkan perkembangan program CFI, termasuk pengenalan konsep Sasi Label. Konsep ini dirancang untuk meningkatkan standar praktik nelayan dan kualitas hasil tangkapan.

Project Manager GEF-6 CFI Indonesia Adipati Rahmat menyampaikan sambutan pada kegiatan Bimtek Kelembagaan Usaha, Manajemen Keuangan dan Pemasaran Prodak, Raja Ampat (6/11/2025)

Dalam program ini nelayan menerima pelatihan teknis seperti: perbaikan mesin dan armada perahu fiber, penggunaan GPS dan fish finder, perbaikan jaring, pengenalan alat tangkap modern yang ramah lingkungan, teknik penangkapan ikan yang aman dan benar.

“Harapannya, nelayan mampu menangkap ikan secara aman, hasil tangkapan lebih berkualitas, dan pada akhirnya mampu meningkatkan pendapatan keluarga,” ujarnya.

Tidak hanya berhenti pada tahap penangkapan, CFI Indonesia juga mendorong pengolahan pascapanen, termasuk pelatihan pengemasan, branding, serta fasilitasi perizinan seperti PIRT, BPOM, dan sertifikasi halal MUI. Semua ini diarahkan agar produk nelayan memenuhi standar gizi dan keamanan pangan, sehingga berpeluang masuk dalam rantai pasok Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Tiga Jenis Pelatihan: dari Pengolahan Ikan hingga Batik Ecoprint

Dalam kegiatan ini diselenggarakan tiga jenis pelatihan utama: (i) Pelatihan pengolahan produk ikan untuk meningkatkan nilai tambah hasil tangkapan.(ii) Pelatihan penggunaan GPS dan fish finder untuk mendukung efisiensi dan keselamatan melaut. (iii) Pelatihan batik ecoprint sebagai diversifikasi ekonomi kreatif masyarakat pesisir.

Hasil praktik Bimtek sub-pengolahan produk makanan bergizi berbahan baku ikan hasil tangkapan dari Kampung Nelayan Merah Putih yang dikombinasikan dengan bahan lokal (umbi-umbian dan daun kelor), didampingi oleh instruktur ahli gizi. Produk ini berpeluang untuk masuk dalam rantai pasok MBG di Raja Ampat. (6-8/11/2025)

Pelatihan melibatkan instruktur dari champion CFI Indonesia, yaitu kelompok masyarakat yang pernah mengikuti pelatihan sebelumnya dan berhasil mengembangkan keterampilannya menjadi sumber pendapatan baru.

Menariknya, batik ecoprint dinilai berpotensi menjadi produk unggulan khas Raja Ampat, mengingat daerah ini telah dikenal sebagai salah satu destinasi wisata terbaik dunia.

Direktur WWF US GEF Agency, Heike Lingertat memantau secara langsung kegiatan Bimtek Kelembagaan Usaha, Manajemen Keuangan dan Pemasaran Prodak, Raja Ampat (6-8/11/2025) 

Dukungan WWF US dan KKP: Perluas Dampak, Perkuat KNMP

Kegiatan ini mendapat apresiasi dari Direktur WWF US GEF Agency, Heike Lingertat, yang menilai bahwa pelatihan semacam ini penting diperluas ke lokasi lain karena membawa manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus mendukung pelestarian ekosistem laut.

Di sisi lain, Direktur PSDI KKP Syahril Abd. Raup menegaskan bahwa KKP mendukung penuh inisiatif seperti ini. Bahkan ia mendorong pemerintah daerah dan mitra lainnya untuk terus memperkuat kolaborasi guna menjadikan KNMP sebagai garda terdepan pengelolaan perikanan berbasis masyarakat.

 

0 COMMENTS

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

0 Comments