cfi-indonesia.id. Upaya menjaga keberlanjutan sumber daya laut kini tidak lagi bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan pendekatan yang menyeluruh, berbasis data, serta melibatkan berbagai pihak. Inilah semangat yang melatarbelakangi pelaksanaan kegiatan Fasilitasi Baseline Study, Konsultasi Multipihak, dan Seminar Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) di kawasan Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Coastal Fisheries Initiative (CFI) Indonesia, hasil kolaborasi antara WWF US sebagai GEF Agency dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Program yang berlangsung sejak 2019 hingga 2026 ini mendorong penerapan pendekatan berbasis ekosistem atau Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) sebagai fondasi pengelolaan perikanan yang berkelanjutan. Pendekatan ini menempatkan keseimbangan antara aspek ekologi, sosial, ekonomi, dan kelembagaan sebagai kunci utama.
Kawasan Strategis dengan Kearifan Lokal yang Kuat
Taman Pesisir Jeen Womom bukan sekadar kawasan dengan potensi perikanan yang tinggi, tetapi juga ruang hidup masyarakat adat yang telah lama menggantungkan hidupnya pada laut. Praktik pengelolaan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun sebenarnya selaras dengan prinsip keberlanjutan. Namun, meningkatnya tekanan terhadap sumber daya serta perubahan sosial-ekonomi menuntut adanya penguatan sistem pengelolaan yang lebih terstruktur dan berbasis data.
.jpeg)
Kawasan strategis dengan kearifan lokal - Sasi di Kampung Warmadi, hasil survey tahap prakondisi di lapangan kegiatan Fasilitasi Baseline Study, Konsultasi Multipihak, dan Seminar Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) di kawasan Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya.
Di sinilah pentingnya penyusunan baseline data—data dasar yang mencakup kondisi biofisik, sosial-ekonomi masyarakat, kelembagaan, hingga praktik kearifan lokal. Data ini menjadi fondasi dalam merancang kebijakan yang tepat sasaran dan adaptif terhadap kondisi lapangan.
Membangun Fondasi: Dari Prakondisi hingga Kesepakatan Bersama
Sebelum memasuki tahap pengumpulan data dan konsultasi multipihak, tim pelaksana yang terdiri dari akademisi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Negeri Papua (UNIPA), WWF Indonesia, dan Pioneer Tanah Papua terlebih dahulu melakukan tahap prakondisi di lapangan.

Persiapan Tim survey tahap prakondisi di lapangan kegiatan Fasilitasi Baseline Study, Konsultasi Multipihak, dan Seminar Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) di kawasan Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya.
Tahap ini tidak sekadar persiapan teknis, tetapi juga proses membangun kepercayaan dengan masyarakat. Pendekatan yang digunakan mengedepankan prinsip Free, Prior and Informed Consent (FPIC) atau dikenal secara lokal sebagai PADIATAPA—persetujuan yang diberikan secara bebas, didahului, dan diinformasikan tanpa paksaan.
Kegiatan prakondisi dilaksanakan di tiga kampung: Resye dan Womom di Distrik Tobouw, serta Syukwo di Distrik Abun. Tim bertemu langsung dengan tokoh-tokoh kunci seperti kepala kampung, tokoh adat, tokoh agama, hingga perwakilan kelompok nelayan dan pemuda.
Namun, dinamika lapangan tidak selalu berjalan mulus.
Tantangan Lapangan: Cuaca, Sosial, hingga Keterbatasan Infrastruktur
Perjalanan menuju lokasi menjadi tantangan pertama. Cuaca buruk menyebabkan penundaan keberangkatan kapal dari Manokwari, sehingga jadwal yang semula direncanakan harus disesuaikan. Akses menuju kampung yang sebagian besar hanya dapat ditempuh melalui jalur laut juga menambah kompleksitas logistik.
Setibanya di Kampung Resye, tim kembali menghadapi tantangan sosial. Aktivitas ujian sekolah dasar membuat sebagian besar warga, khususnya perempuan, terlibat dalam kegiatan pendukung. Di saat yang sama, suasana duka karena adanya warga yang meninggal turut memengaruhi partisipasi masyarakat dalam pertemuan.
.jpeg)
Kegiatan survey tahap prakondisi di lapangan kegiatan Fasilitasi Baseline Study, Konsultasi Multipihak, dan Seminar Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) di kawasan Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya.
Alih-alih memaksakan pertemuan formal di balai kampung, tim mengambil pendekatan yang lebih adaptif: kunjungan dari rumah ke rumah. Metode ini terbukti efektif untuk tetap menyampaikan tujuan kegiatan sekaligus membangun komunikasi yang lebih personal dengan masyarakat.
Pendekatan serupa juga diterapkan di Kampung Womom dan Syukwo. Di Kampung Syukwo, bahkan dilakukan pertemuan malam hari di balai kampung untuk memastikan seluruh pihak dapat terlibat dalam proses kesepakatan.
Hasil Penting: Komitmen Kolektif dan Legalitas Sosial
Dari seluruh rangkaian kegiatan prakondisi, satu capaian penting berhasil diraih: adanya kesepakatan bersama yang dituangkan dalam berita acara dan ditandatangani oleh perwakilan masyarakat di ketiga kampung.
.jpeg)
Kegiatan survey tahap prakondisi di lapangan kegiatan Fasilitasi Baseline Study, Konsultasi Multipihak, dan Seminar Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) di kawasan Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya.
Dokumen ini bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk legitimasi sosial yang sangat penting. Kesepakatan ini menandai bahwa masyarakat tidak hanya mengetahui, tetapi juga menyetujui dan siap terlibat dalam proses pengkajian performa perikanan berbasis EAFM ke depan.
Selain itu, masing-masing kampung juga telah menunjuk perwakilan masyarakat yang akan dilibatkan sebagai enumerator lokal dalam proses pengumpulan data nelayan dan hasil tangkapan ikan.
Menuju Pengelolaan Berbasis Data dan Kolaborasi
Meskipun kegiatan lapangan masih menghadapi keterbatasan, termasuk penundaan lanjutan akibat pendanaan dan kendala teknis seperti jaringan untuk dokumentasi berbasis geotagging, fondasi awal telah berhasil dibangun.
Langkah selanjutnya adalah melaksanakan baseline study, konsultasi multipihak, dan seminar EAFM yang akan mempertemukan berbagai aktor—pemerintah daerah, akademisi, masyarakat adat, hingga organisasi masyarakat sipil—dalam satu ruang dialog.
Proses ini diharapkan mampu menghasilkan pemahaman bersama, meningkatkan kapasitas para pihak, serta merumuskan rekomendasi strategis untuk pengelolaan perikanan yang lebih berkelanjutan.
Dukungan Penuh GEF 6 CFI Indonesia
Program GEF-6 CFI Indonesia memberikan dukungan nyata terhadap implementasi kebijakan Blue Economy yang diusung oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), khususnya dalam upaya perluasan serta peningkatan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi. Salah satu bentuk konkret dukungan tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan kegiatan Fasilitasi Baseline Study, Konsultasi Multipihak, dan Seminar Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) di kawasan Taman Pesisir Jeen Womom, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya.
Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari inisiatif tahun sebelumnya yang berfokus pada penguatan tata kelola kawasan pesisir berbasis pendekatan ekosistem. Upaya ini juga selaras dengan penerapan instrumen nasional, yaitu Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi (Evika), yang dikembangkan oleh KKP sebagai alat ukur kinerja pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia.
Project Manager PMU GEF-6 CFI Indonesia, Adipati Rahmat, menegaskan bahwa peningkatan kualitas nilai Evika menjadi salah satu target penting dalam pelaksanaan program ini. “CFI Indonesia berkomitmen untuk mendukung program pemerintah dalam meningkatkan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia. Hal ini menjadi salah satu output utama dari proyek yang sedang berjalan,” ujarnya.
Melalui integrasi pendekatan EAFM dan penguatan sistem evaluasi seperti Evika, diharapkan pengelolaan kawasan konservasi tidak hanya lebih terukur, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata bagi keberlanjutan ekosistem pesisir serta kesejahteraan masyarakat yang bergantung padanya.
Dari Lokal untuk Global
Apa yang dilakukan di Jeen Womom adalah contoh nyata bahwa pengelolaan sumber daya laut tidak bisa dilepaskan dari konteks lokal. Kearifan masyarakat adat, jika dipadukan dengan pendekatan ilmiah dan dukungan kebijakan, dapat menjadi kekuatan besar dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.
Dengan pendekatan yang partisipatif, berbasis data, dan menghormati hak masyarakat adat, inisiatif ini tidak hanya berkontribusi pada pengelolaan perikanan di Tambrauw, tetapi juga menjadi bagian dari upaya global dalam menjaga keanekaragaman hayati laut.
Langkah kecil di tiga kampung ini bisa menjadi pijakan penting menuju masa depan pesisir yang lebih lestari—di mana laut tetap menjadi sumber kehidupan, bukan sekadar sumber eksploitasi.
0 COMMENTS