728 x 90

KEARIFAN LOKAL MENJAGA LAHAN BASAH: SASI DAN CRAB BANK UNTUK KEPITING BAKAU BERKELANJUTAN

Tulisan ini dipersembahkan untuk memperingati Hari Lahan Basah Sedunia 2026, “Lahan Basah dan Pengetahuan Tradisional: Merayakan Warisan Budaya”

 

Indonesia merupakan salah satu negara dengan ekosistem lahan basah terluas di dunia. Dengan luas mencapai sekitar 40,5 juta hektare, lahan basah Indonesia mencakup rawa, sungai, danau, lahan gambut tropis, serta hutan mangrove. Keberadaan ekosistem ini bukan hanya menopang keanekaragaman hayati, tetapi juga menjadi penyangga kehidupan jutaan masyarakat pesisir.

Hutan mangrove Indonesia diperkirakan seluas 3,44 juta hektare, atau sekitar 20–30 persen dari total mangrove dunia. Selain berfungsi melindungi pesisir dari abrasi dan badai, mangrove menyimpan cadangan karbon pesisir hingga 3,14 miliar ton, menjadikannya salah satu penyerap karbon alami terbesar di dunia. Mangrove juga menjadi habitat penting bagi berbagai biota bernilai ekonomi tinggi, termasuk kepiting bakau.

Kepiting Bakau dan Ketergantungan Masyarakat Pesisir

Di Kabupaten Maluku Tenggara, kepiting bakau telah lama menjadi sumber penghidupan utama masyarakat pesisir. Permintaan pasar yang terus meningkat—khususnya untuk kebutuhan ekspor—menjadikan komoditas ini sebagai tulang punggung ekonomi lokal. Namun, tekanan penangkapan yang tinggi berpotensi mengancam keberlanjutan stok jika tidak dikelola secara bijaksana.

Potensi Kepiting Bakau di Kabupaten Maluku Tenggara, salah satu site project CFI Indoensia 

Menjawab tantangan tersebut, Program Global Environment Facility (GEF-6) Coastal Fisheries Initiative (CFI) Indonesia hadir mendorong pengelolaan kepiting bakau yang berkelanjutan di Teluk Hoat Sorbay. Melalui fasilitasi pertemuan Kelompok Kerja (Pokja) Marine Stewardship Council (MSC) Kepiting Bakau, GEF-6 CFI memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah, nelayan, akademisi, dan WWF Indonesia untuk menuju sertifikasi MSC, standar global perikanan berkelanjutan.

Bukti Ilmiah sebagai Dasar Kebijakan

Paparan ilmiah yang disampaikan peneliti Kamaluddin Kasim menunjukkan kondisi stok kepiting bakau yang perlu dikelola secara hati-hati. Kepiting laut (Scylla serrata) masih tergolong melimpah, sementara kepiting darat (Scylla olivacea) mulai menunjukkan penurunan populasi akibat penangkapan sebelum mencapai ukuran matang gonad.

Analisis stok periode 2020–2024 memperlihatkan bahwa biomassa S. serrata masih berada di atas batas lestari, sedangkan S. olivacea berada di bawah tingkat aman. Temuan ini memperkuat urgensi pengaturan ukuran tangkap, kuota produksi, serta perlindungan habitat pemijahan.

Kepala DKP Maluku Erawan Asikin  menyampaikan arahan dan membuka pertemuan Pokja MSC Kepiting Bakau untuk wilayah Teluk Hoat Sorbay difasilitasi melalui pendanaan hibah GEF 6 CFI Indonesia, Ambon (4/11/2025).

Hasil pertemuan Pokja MSC kemudian merumuskan kesepakatan penting, antara lain penetapan ukuran tangkap minimum, kewajiban melepas kepiting betina bertelur, larangan penangkapan di area pemijahan tertentu, serta rekomendasi kuota tangkapan tahunan. Strategi ini disusun dalam kerangka Harvest Strategy dan Harvest Control Rule berbasis sains.

Bimtek Crab Bank: Investasi Ekologi untuk Masa Depan

Selain penguatan tata kelola, GEF-6 CFI Indonesia juga menaruh perhatian besar pada peningkatan kapasitas nelayan melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Crab Bank yang digelar di Desa Evu, Teluk Hoat Sorbay. Program ini memperkenalkan pendekatan inovatif dalam pengelolaan kepiting bakau dengan filosofi sederhana namun visioner: memperlakukan alam sebagai bank kehidupan.

Melalui Bimtek ini, nelayan diperkenalkan pada tiga teknologi utama, yakni Crab House, Crab Shelter, dan Crab Cage. Teknologi tersebut dirancang untuk mendukung pelepasan kembali kepiting berukuran kecil dan kepiting betina bertelur ke alam, sekaligus meningkatkan kelangsungan hidup kepiting sebelum dipasarkan. Pendekatan ini tidak hanya menjaga stok di alam, tetapi juga meningkatkan kualitas dan nilai tawar kepiting hasil tangkapan.

Kegiatan Bimbingan Teknis Pengelolaan Kepiting Bakau melalui Implementasi Crab Bank di Maluku Tenggara dihadiri Pejabat Desa Evu Frits Elmas, Perwakilan Dinas Perikanan Kabupaten Maluku Tenggara Mufti Ingratubun,  BPPI Semarang Reza Adhitama dan PMU GEF 6 CFI Indonesia Ahadar Tuhuteru (14/08/2023)

Crab Bank mendorong perubahan paradigma: dari sekadar menangkap, menjadi mengelola dan menabung sumber daya agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh generasi saat ini dan mendatang. Inisiatif ini sekaligus mendukung proses eco-labeling MSC yang tengah diupayakan pemerintah daerah bersama WWF Indonesia.

Daerah Perlindungan Kepiting Bakau Berbasis Lokal

GEF-6 CFI Indonesia juga memfasilitasi inisiasi daerah perlindungan kepiting bakau yang disepakati bersama oleh seluruh pemangku kepentingan perikanan tangkap di Ohoi Evu. Kawasan (ekosistem) mangrove ini berfungsi sebagai zona inti untuk pelepasan kepiting yang tidak sesuai aturan, serta sebagai area pemijahan dan pembesaran alami.

Langkah ini diperkuat oleh Peraturan Desa Evu No. 1 Tahun 2018 tentang pemanfaatan kepiting bakau di Teluk Hoat Sorbay. Peraturan tersebut mengatur ukuran tangkap, kuota produksi, sanksi pelanggaran, dan mekanisme pengawasan—bahkan melampaui ketentuan nasional. Implementasi aturan lokal ini menjadi bukti bahwa tata kelola berbasis masyarakat mampu berjalan efektif ketika didukung pendampingan dan penguatan kapasitas.

Sasi dan OECM: Kearifan Lokal yang Diakui Dunia

Upaya perlindungan kepiting bakau di Maluku juga sejalan dengan praktik sasi, sistem adat yang telah lama mengatur pemanfaatan sumber daya laut. Praktik sasi di wilayah Maluku Tenggara dan Seram Bagian Timur kini diidentifikasi memiliki potensi besar sebagai Other Effective Area-Based Conservation Measures (OECM)—sebuah pengakuan global atas kawasan konservasi berbasis masyarakat adat.

Sasi bukan sekadar instrumen ekologis, tetapi juga sarat nilai budaya, spiritual, dan sosial. Musyawarah, kepatuhan kolektif, serta pembagian manfaat ekonomi menjadikan sasi sebagai fondasi kuat konservasi yang berkeadilan.

Merayakan Lahan Basah, Menjaga Kehidupan

Peringatan Hari Lahan Basah Sedunia menjadi momentum refleksi bahwa keberlanjutan lahan basah tidak dapat dilepaskan dari peran masyarakat lokal. Dari mangrove yang menyimpan karbon hingga kepiting bakau yang menopang ekonomi pesisir, dari sasi hingga Crab Bank, Indonesia menunjukkan bahwa pengetahuan tradisional dan pendekatan ilmiah dapat saling menguatkan.

Mangrove yang sehat dan kepiting bakau yang berlimpah adalah hasil dari tata kelola yang arif. Melalui kolaborasi GEF-6 CFI Indonesia, pemerintah daerah, nelayan, dan masyarakat adat, masa depan pesisir Maluku tidak hanya dijaga—tetapi juga diwariskan secara berkelanjutan.

 

0 COMMENTS

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

0 Comments