728 x 90

MENGHUBUNGKAN KONSERVASI DAN KESEJAHTERAAN: UJI COBA MEKANISME PES UNTUK PESISIR MALUKU TENGGARA

Bandung – cfi-indonesia.id. Upaya menjaga ekosistem pesisir Indonesia kini memasuki babak baru. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Proyek Global Environment Facilities–Coastal Fisheries Initiative (GEF-CFI) Indonesia menyelenggarakan Konsinyering Tim Riset Percontohan dengan Menggunakan Mekanisme Keuangan Payment for Ecosystem Services (PES) untuk Konservasi Pesisir di Maluku Tenggara. Kegiatan ini berlangsung di Bandung pada 10–12 Desember 2025 dan menjadi forum penting untuk merancang pendekatan konservasi yang tidak hanya melindungi alam, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Kegiatan Konsinyering Tim Riset Percontohan dengan Menggunakan Mekanisme Keuangan Payment for Ecosystem Services (PES) untuk Konservasi Pesisir di Maluku Tenggara, Bandung (10/12/2025)

Acara ini secara resmi dibuka oleh Kepala Pusat Riset Ekonomi Industri, Jasa, dan Perdagangan (PR-EIJP) BRIN, Dr. Umi Mu’awanah. Sebanyak 19 peserta hadir, terdiri atas periset, pengelola proyek, dan pemangku kepentingan terkait, dengan komposisi yang cukup seimbang antara pria dan wanita. Diskusi selama kegiatan dimoderatori oleh Husen Rifai, M.Biol.Sc., Peneliti Ahli Madya PR-EIJP BRIN.

Kepala Pusat Riset Ekonomi Industri, Jasa, dan Perdagangan (PR-EIJP) BRIN, Dr. Umi Mu’awanah. membuka Kegiatan Konsinyering Tim Riset Percontohan dengan Menggunakan Mekanisme Keuangan Payment for Ecosystem Services (PES) untuk Konservasi Pesisir di Maluku Tenggara, Bandung (10/12/2025)

Dalam sambutannya, Dr. Umi Mu’awanah menekankan bahwa perubahan kepemimpinan di lingkungan BRIN turut membawa arah baru dalam pelaksanaan riset nasional. Ke depan, riset tidak hanya didorong untuk menghasilkan kebaruan ilmiah, tetapi juga harus mampu menjawab isu-isu strategis nasional melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga. Pendekatan riset terapan menjadi semakin relevan, terutama dalam menjawab tantangan pengelolaan sumber daya perikanan dan konservasi pesisir. Menurutnya, perlindungan ekosistem laut tidak bisa dilepaskan dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup pada sumber daya tersebut.

Project Manager GEF 6-CFI Indonesia Dr. Adipati Rahmat, menyampaikan arahan pada Kegiatan Konsinyering Tim Riset Percontohan dengan Menggunakan Mekanisme Keuangan Payment for Ecosystem Services (PES) untuk Konservasi Pesisir di Maluku Tenggara, Bandung (10/12/2025)

Pandangan ini sejalan dengan visi GEF 6 -CFI Indonesia. Dr. Adipati Rahmat, Project Manager GEF 6 -CFI Indonesia, menyampaikan apresiasi atas dukungan BRIN dalam melakukan kajian yang diharapkan menjadi model percontohan penerapan PES di berbagai wilayah Indonesia. Ia menegaskan bahwa mekanisme PES selaras dengan tujuan proyek, yaitu memperkuat tata kelola perikanan berbasis ekosistem sekaligus memberdayakan komunitas pesisir. Melalui PES, konservasi tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai peluang. Masyarakat lokal tidak hanya berperan sebagai penjaga ekosistem, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi yang nyata dari praktik pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan.

Dalam sesi pemaparan tim riset, Ketua Tim Riset, Dr. Siti Hajar Suryawati, melaporkan perkembangan pelaksanaan kegiatan di lapangan. Penerapan PES di Maluku Tenggara dirancang untuk melindungi ekosistem pesisir melalui pemberian insentif keuangan, salah satunya dalam bentuk user’s fee. Dana yang terkumpul dapat dimanfaatkan kembali untuk kegiatan pengelolaan sumber daya dan konservasi. Proses ini tidak dilakukan secara sepihak, melainkan melalui koordinasi dengan para pemangku kepentingan lokal serta pelibatan aktif masyarakat adat. Dukungan dari Wakil Bupati Maluku Tenggara menjadi sinyal positif bahwa inisiatif ini mendapat legitimasi dan perhatian dari pemerintah daerah.

Pengalaman lokal Maluku Tenggara juga menjadi sorotan penting dalam diskusi. Ahadar Tuhuteru, S.Pi., M.Si., Knowledge Management and Monitoring & Evaluation Specialist GEF 6, mengungkapkan adanya praktik terbaik pengelolaan sumber daya berbasis hak ulayat adat melalui konsep Sasi Co-Management. Dalam sistem ini, pengelolaan sumber daya laut dilakukan secara bersama antara masyarakat adat dan pemerintah. Tradisi sasi, yang mengatur larangan sementara pengambilan hasil laut, secara tidak langsung telah membuktikan efektivitas partisipasi masyarakat dalam menjaga kelestarian sumber daya alam.

CFI Indonesia kemudian mengembangkan Sasi Co-Management sebagai model pengelolaan perikanan berkelanjutan yang memadukan kearifan lokal dengan pendekatan modern, seperti pemetaan berbasis GIS dan pelatihan selam. Kolaborasi ini melibatkan masyarakat adat, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat konservasi sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi, misalnya melalui pengembangan label sasi untuk produk perikanan berkelanjutan. Tujuan akhirnya adalah merevitalisasi sasi sebagai solusi konservasi efektif (Other Effective Area-Based Conservation Measures/OECM) serta mengakui masyarakat hukum adat sebagai pelindung utama ekosistem.

Secara konseptual, Payment for Ecosystem Services merupakan mekanisme insentif ekonomi di mana pengguna jasa lingkungan memberikan kompensasi kepada penyedia jasa ekosistem agar layanan tersebut tetap terjaga. PES menjadi instrumen strategis untuk memperkuat kolaborasi multipihak—pemerintah, swasta, akademisi, dan komunitas lokal—dalam upaya konservasi. Lebih dari sekadar instrumen ekonomi, PES adalah pendekatan integratif yang menghubungkan perlindungan lingkungan dengan kesejahteraan sosial.

Diskusi selama konsinyering menegaskan bahwa keberhasilan konservasi sangat bergantung pada tata kelola yang baik dan basis data yang kuat. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Sinergi seluruh pemangku kepentingan mutlak diperlukan agar kawasan konservasi perairan dapat dikelola secara optimal. Dalam kerangka ekonomi biru yang berkeadilan (Equitable Blue Economy), kawasan konservasi tidak hanya dilindungi, tetapi juga dimanfaatkan secara bijak untuk mendukung aktivitas ekonomi yang berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir tanpa mengorbankan kelestarian ekosistem laut.

0 COMMENTS

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

0 Comments