Sorong, cfi-indonesia.id. — Upaya menjaga keberlanjutan laut terus diperkuat di Papua Barat Daya. Melalui kolaborasi lintas lembaga, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya (Dinas Pertanian. Pangan, Kelautan dan Perikanan) dan Politeknik Kelautan dan Perikanan (Poltek KP) Sorong, menyelenggarakan pelatihan bertajuk “Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Perikanan Skala Kecil” bagi Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) yang berlangsung selama tiga hari, 6–8 November 2025. Kegiatan ini menjadi bagian dari program hibah GEF-6 Coastal Fisheries Initiative (CFI) Indonesia, sebuah program yang berfokus pada keberlanjutan dan tata kelola perikanan berbasis ekosistem di wilayah timur Indonesia.
Pelatihan tersebut diikuti oleh 50 peserta yang berasal dari Pokmaswas, perwakilan dinas perikanan kabupaten/kota, serta taruna Poltek KP Sorong. Seluruh peserta berkumpul untuk memperkuat pemahaman terkait pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan, peran masyarakat dalam mencegah praktik penangkapan ikan yang merusak, hingga pemanfaatan teknologi dalam sistem pelaporan modern.
.jpeg)
Kegiatan Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Perikanan Skala Kecil bagi Pokmaswas dihadiri Direktur WWF US GEF Agency, Project Manager GEF-6 CFI Indonesia, Puslabfor Polda Papua, Perwakilan PSDKP-KKP, Direktur Poltek KP Sorong, Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Barat Daya, Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia, Sorong (6/11/2025)
Dalam kegiatan ini, berbagai narasumber dari lembaga pemerintah, lembaga internasional, aparat penegak hukum, dan organisasi masyarakat sipil hadir memberikan materi. Di antaranya: Heike Lingertat (Direktur WWF US GEF Agency), Adipati Rahmat (Project Manager GEF-6 CFI Indonesia), Gede Suarthawan (Puslabfor Polda Papua), Baso Syafiudin dan Arifudin (Destructive Fishing Watch/DFW Indonesia), serta jajaran PSDKP: Rahmatia Timja (Pembinaan & Pengembangan SD Kelautan), Riko Casanova (Analis Pengelolaan Keuangan APBN – Ahli Muda), Arseta Rahardiyawan (Analis Pengembangan Sarpras), dan Asep Supriadi (Pengawas Perikanan).
Menjaga Laut untuk Generasi Mendatang
Kegiatan dibuka oleh Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan (P2KP) Provinsi Papua Barat Daya, Absalom Solosa. Dalam sambutannya, ia mengingatkan bahwa pengelolaan perikanan berkelanjutan bukan hanya tentang menjaga ekosistem hari ini, melainkan memastikan bahwa generasi berikutnya masih memiliki laut yang produktif.
“Jangan langsung menangkap habis hari ini, agar 5–10 tahun ke depan anak kita bisa menikmati hasilnya,” tegasnya.

Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Barat Daya, Absalom Solosa menyampaikan sambutan sekalgus membuka Kegiatan Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Perikanan Skala Kecil bagi Pokmaswas, Sorong (6/11/2025)
Pesan ini relevan dengan kondisi Papua Barat Daya yang memiliki keanekaragaman hayati laut berkelas dunia. Solosa menekankan bahwa masyarakat harus dilibatkan dan dibekali kemampuan untuk menjaga sumber daya tersebut, terutama karena praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan masih terjadi di beberapa wilayah pesisir.
Peran Pendidikan dalam Konservasi
Direktur Poltek KP Sorong, Daniel Heintje Ndahawali, turut menyoroti pentingnya edukasi dan pembinaan sejak dini bagi generasi muda calon pengelola sumber daya kelautan. Menurutnya, taruna Poltek KP yang kelak menjadi nakhoda kapal perikanan, kepala kamar mesin, penyuluh, atau petugas pengawasan, harus memahami pentingnya keberlanjutan sejak masa pendidikan .
.jpeg)
Direktur Poltek Kelautan dan Perikanan Sorong, Daniel Heintje Ndahawali menyampaikan sambutan selamat datang pada Kegiatan Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Perikanan Skala Kecil bagi Pokmaswas, Sorong (6/11/2025)
Papua, menurut Ndahawali, tidak hanya memiliki potensi perikanan, tetapi juga mega biodiversity yang menjadi salah satu yang terkaya di dunia. Potensi ini dapat hilang jika aktivitas destruktif—mulai dari penggunaan bom, racun, hingga alat tangkap tidak ramah lingkungan—tidak dihentikan. Karena itu, kegiatan pelatihan semacam ini bukan hanya rutinitas, melainkan bagian dari kampanye besar untuk memastikan laut tetap sehat.
Kolaborasi Global untuk Perikanan Berkelanjutan
Salah satu narasumber internasional, Heike Lingertat (Direktur WWF US GEF Agency), memberikan gambaran mengenai fokus program GEF-6 CFI Indonesia. Menurutnya, program ini mendorong penerapan Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) dan mendukung agenda blue economy Indonesia. Ia juga menyoroti ancaman kehilangan biodiversitas akibat praktik pengelolaan yang tidak berkelanjutan.
.jpeg)
Direktur WWF US GEF Agency, Heike Lingertat, menyampaikan sambutan pada Kegiatan Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Perikanan Skala Kecil bagi Pokmaswas, Sorong (6/11/2025)
Heike mencontohkan berbagai intervensi yang dilakukan, mulai dari pendampingan regulasi seperti diseminasi Pergub Maluku No. 22/2023 hingga pelatihan aparatur dan Pokmaswas. Langkah-langkah ini penting untuk mencegah destructive fishing dan memastikan kegiatan penangkapan ikan berada dalam batas aman secara ekologis.
Pokmaswas: Mata dan Telinga di Lapangan
Perwakilan PSDKP, Rahmatia, menegaskan peran strategis Pokmaswas dalam pengawasan berbasis masyarakat. Menurutnya, banyak aktivitas di pesisir yang berpotensi merusak ekosistem laut, dan tidak semua dapat diawasi oleh aparat. Di sinilah Pokmaswas hadir sebagai garda terdepan.
.jpeg)
Kapala TIm Kerja PSDK KKP, Rahmatia menyampaikan sambutan pada Kegiatan Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Perikanan Skala Kecil bagi Pokmaswas, Sorong (6/11/2025)
Ia menuturkan bahwa PSDKP menerima berbagai laporan mulai dari dugaan IUU fishing, pelanggaran pesisir, hingga kerusakan lingkungan. Karena itu, peserta didorong untuk meningkatkan kemampuan mengumpulkan bukti, memahami SOP pelaporan, dan tidak ragu menyampaikan dugaan pelanggaran.
Tantangan Pengawasan dan Upaya Kolaboratif
Project Manager GEF-6 CFI Indonesia, Adipati Rahmat, menggarisbawahi tantangan besar dalam pengawasan sumber daya kelautan di Indonesia: wilayah yang luas, keterbatasan sarana-prasarana, minimnya tenaga pengawas, serta kendala biaya. Ia menekankan bahwa pengawasan tidak mungkin hanya bertumpu pada aparat pemerintah.
.jpeg)
Project Manager GEF-6 CFI Indonesia, Adipati Rahmat menyampaikan sambutan pada Kegiatan Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Perikanan Skala Kecil bagi Pokmaswas, Sorong (6/11/2025)
“Negara kita terlalu luas dan terlalu kaya untuk diawasi sepenuhnya hanya oleh aparat; masyarakat harus menjadi bagian dari pengawasan itu,” ungkapnya.
Menurut Adipati, GEF-6 CFI Indonesia berkomitmen membantu pemerintah dan masyarakat melalui pelatihan pengawasan berbasis bukti, pemahaman risiko ekologis, serta mitigasi konflik yang kerap terjadi di lapangan.
Rencana Aksi 2025–2029: Digitalisasi hingga Integrasi Kearifan Lokal
Salah satu hasil penting kegiatan ini adalah penyepakatan sejumlah Strategi Penguatan Pokmaswas Papua Barat Daya (WPP 717) untuk periode 2025–2029. Beberapa poin kunci meliputi:
- Penguatan sistem pendanaan Pokmaswas
Melalui kolaborasi pendanaan dari CSR, lembaga donor, universitas, dan pengembangan usaha ekonomi alternatif berbasis konservasi seperti ekowisata atau budidaya ramah lingkungan. - Strategi pemantauan dan pelaporan
Termasuk penyusunan SOP pengawasan, pemetaan hotspot IUU fishing, serta peningkatan kapasitas SDM Pokmaswas. - Dukungan penindakan hukum
Meliputi pelatihan penanganan barang bukti, dokumentasi pelanggaran, hingga mitigasi konflik antar nelayan dan aparat. - Modernisasi sistem pelaporan dan komunikasi
Berupa pengembangan dashboard digital, sistem pelaporan online, serta kanal komunikasi darurat berbasis aplikasi. - Penguatan edukasi dan kearifan lokal
Integrasi aturan adat seperti sasi laut ke dalam regulasi desa, sosialisasi peran Pokmaswas, hingga penyebaran informasi kepada nelayan dan masyarakat pesisir.
Peserta bersama narasumber Kegiatan Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Perikanan Skala Kecil bagi Pokmaswas membahas rencana aksi kegiatan Pengawasan di WPP 717 khusunya Provinsi Papua Barat Daya, Sorong (6-8/11/2025)
Sinergi Lintas Sektor untuk Laut yang Lebih Terjaga
Kegiatan tiga hari ini menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, masyarakat, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat sipil, dan mitra internasional. Pengelolaan perikanan skala kecil bukan hanya persoalan teknis, tetapi menyangkut masa depan ekonomi masyarakat pesisir dan kelestarian laut Indonesia.
Pelatihan ini juga menjadi bukti bahwa kapasitas masyarakat adalah fondasi utama untuk menjaga laut tetap produktif dan sehat. Dengan kolaborasi yang kuat, Papua Barat Daya diharapkan menjadi model pengelolaan perikanan berbasis ekosistem yang dapat diadopsi di berbagai wilayah lain di Indonesia.
0 COMMENTS.jpeg)