728 x 90

REPLIKASI BEST PRACTICE PERKUAT PERAN PEREMPUAN PESISIR DALAM PENGEMBANGAN EKONOMI DI KNMP SORUE JAYA

Konawe, 20 Agustus 2026 — GEF-6 CFI Indonesia berkolaborasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Kendari dan Dinas Perikanan Kabupaten Konawe dalam pelaksanaan kegiatan Replikasi Best Practice melalui Peningkatan Kapasitas Usaha Perempuan Nelayan di Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Sorue Jaya, Kabupaten Konawe.

Kegiatan yang berlangsung pada 20–22 Agustus 2026 ini menjadi bagian dari upaya memperluas pembelajaran dan praktik baik GEF-6 CFI Indonesia kepada masyarakat di luar lokasi utama project, sekaligus mendukung pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) sebagai salah satu program prioritas pemerintah. Kegiatan diarahkan untuk memperkuat kapasitas perempuan pesisir dalam mengembangkan usaha berbasis hasil perikanan, meningkatkan nilai tambah produk, serta membuka akses terhadap pasar yang lebih luas, termasuk peluang keterhubungan dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Selama tiga hari, peserta mendapatkan pembekalan dan praktik yang mencakup manajemen usaha kelompok, legalitas usaha, keamanan pangan dan PIRT, sertifikasi halal, penanganan hasil perikanan, peningkatan nilai tambah produk, serta pengembangan dan diversifikasi produk olahan berbahan dasar ikan.

Kolaborasi Memperkuat Kapasitas Perempuan Nelayan

Kegiatan secara resmi dibuka oleh M. Rahman, Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya, Kelembagaan dan Pengawasan Sumber Daya Perikanan, Dinas Perikanan Kabupaten Konawe, yang mewakili Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Konawe. 

Kabid Pengembangan Sumber Daya, Kelembagaan, dan Pengawasan Sumber Daya Perikanan Dinas Perikanan Konawe,M. Rahman , memberikan sambutan dan membuka kegiatan. Beliau menekankan pentingnya peningkatan kapasitas wanita nelayan dalam menciptakan produk olahan bernilai tambah demi penguatan ekonomi pesisir (20/8).

Pembukaan turut dihadiri Faridatun Amalia, Gender Specialist GEF-6 CFI Indonesia, Ikram, perwakilan Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Kendari/KKP; Sahrudin, Sekretaris Dinas Perikanan Kabupaten Konawe; Arnani dari Dinas Perikanan Kabupaten Konawe; Samsinar, Koordinator Penyuluh Perikanan; serta Mira, Wakil Ketua Koperasi Desa Merah Putih Sorue Jaya.

Dalam sambutannya, Rahman menekankan pentingnya peningkatan kapasitas perempuan nelayan sebagai bagian dari penguatan ekonomi masyarakat pesisir. Menurutnya, potensi perikanan yang dimiliki Kabupaten Konawe perlu diikuti dengan kemampuan masyarakat untuk mengolah dan mengembangkan hasil perikanan menjadi produk yang memberikan nilai tambah.

Potensi perikanan yang kita miliki perlu diikuti dengan kemampuan masyarakat untuk mengolah dan mengembangkan hasil perikanan tersebut menjadi produk yang bernilai tambah. Perempuan nelayan memiliki peran penting dalam proses tersebut. Karena itu, kami berharap kegiatan ini dapat meningkatkan keterampilan sekaligus membuka wawasan kelompok dalam mengembangkan usaha yang lebih terarah, memiliki legalitas, menjaga kualitas produk, dan mampu melihat peluang pasar,” ujar Rahman.

Gender Specialist GEF-6 CFI Indonesia, Faridatun Amalia, menyampaikan maksud dan tujuan pelaksanaan kegiatan sekaligus memperkenalkan project (20/8). 

Sementara itu, Faridatun Amalia. Gender Specialist GEF-6 CFI Indonesia, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari strategi project dalam memperluas manfaat pembelajaran yang telah dikembangkan melalui pendampingan kelompok masyarakat pesisir.

“Replikasi best practice ini merupakan bagian dari upaya GEF-6 CFI Indonesia untuk memperluas pembelajaran yang telah dikembangkan bersama kelompok masyarakat pesisir. Kami ingin memastikan bahwa penguatan kapasitas perempuan tidak berhenti pada keterampilan produksi, tetapi juga mencakup aspek kelembagaan, legalitas, keamanan pangan, dan akses terhadap peluang pasar. Dengan demikian, perempuan dapat semakin berperan sebagai pelaku usaha dalam rantai nilai perikanan dan memberikan nilai tambah bagi ekonomi keluarga,” jelas Faridatun.

Perwakilan PPS Kendari, M. Ikram, menyampaikan sambutan dalam kegiatan Replikasi Best Practice Melalui Pelatihan Peningkatan Kapasitas Usaha Wanita Nelayan di KNMP Sorue Jaya, Kabupaten Konawe (20/8)

Dukungan juga disampaikan oleh Ikram, perwakilan PPS Kendari/KKP, yang menilai bahwa pengembangan KNMP perlu berjalan seiring dengan penguatan kapasitas masyarakat sebagai pelaku utama.

“Pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih tidak hanya membutuhkan pembangunan sarana dan prasarana, tetapi juga masyarakat yang memiliki kapasitas untuk mengelola dan memanfaatkan potensi yang ada. Karena itu, kegiatan peningkatan kapasitas seperti ini menjadi penting untuk membangun kemampuan kelompok, khususnya perempuan nelayan, agar dapat mengembangkan hasil perikanan menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan mampu mendukung perekonomian masyarakat,” ujar Ikram.

Menurutnya, sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, project, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam memperluas praktik baik serta memastikan pengembangan KNMP memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.

Memperkuat Legalitas, Mutu, dan Keamanan Produk

Salah satu fokus kegiatan adalah memperkuat pemahaman peserta mengenai aspek legalitas, mutu, dan keamanan produk sebagai fondasi pengembangan usaha. 

Sahrudin, Sekretaris Dinas Perikanan Kabupaten Konawe, memberikan materi mengenai manajemen usaha kelompok, dengan menekankan pentingnya pengelolaan kelompok dan usaha yang lebih terstruktur untuk mendukung keberlanjutan kegiatan ekonomi.

Peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai keamanan pangan dan PIRT, sertifikasi halal, penanganan ikan yang baik untuk penyimpanan maupun produk olahan, serta strategi peningkatan nilai tambah produk perikanan.

Antusiasme para peserta saat mengikuti kegiatan Replikasi Best Practice Melalui Pelatihan Peningkatan Kapasitas Usaha Wanita Nelayan di KNMP Sorue Jaya, Kabupaten Konawe. Program ini dirancang untuk memperkuat kapasitas kelompok perempuan pesisir mulai dari pengurusan legalitas dan sertifikasi usaha, penjaminan mutu dan keamanan pangan, hingga diversifikasi produk melalui praktik pembuatan nugget dan bakso ikan demi memacu kemandirian ekonomi keluarga nelayan (20-22/8).

Untuk memperkuat aspek penanganan hasil perikanan, narasumber dari BPPMHKP memberikan informasi mengenai penanganan ikan yang baik, baik untuk kebutuhan cold storage maupun sebagai bahan baku produk olahan. Pengetahuan ini penting untuk membantu kelompok menjaga kualitas bahan baku sejak tahap awal hingga proses pengolahan.

Pada aspek sertifikasi halal, Nur Asma dari BPJPH memberikan penjelasan mengenai proses pengajuan sertifikasi halal sekaligus melakukan demonstrasi pembuatan akun untuk pengajuan sertifikasi. Peserta juga akan mendapatkan pendampingan lebih lanjut dalam proses pemenuhan persyaratan hingga sertifikasi dapat diterbitkan.

Sementara itu, aspek PIRT difasilitasi melalui Dinas Kesehatan, termasuk dukungan dalam proses rekomendasi produk dan pengembangan desain label. Untuk pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB), peserta diarahkan untuk melakukan koordinasi lebih lanjut dengan PTSP.

Penguatan aspek tersebut diharapkan dapat membantu kelompok meningkatkan kesiapan usahanya, sehingga produk yang dikembangkan tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga memenuhi aspek legalitas, keamanan, mutu, dan kepercayaan konsumen.

Membuka Peluang Produk Lokal dalam Rantai Pasok MBG

Sejalan dengan arah pengembangan KNMP dan program prioritas pemerintah, kegiatan juga memberikan ruang bagi peserta untuk mengenali peluang pengembangan produk perikanan yang berpotensi mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dokumentasi hari ketiga pelatihan: Para peserta wanita nelayan mempraktikkan pembuatan nugget dan bakso ikan sebagai upaya mendorong diversifikasi produk perikanan bernilai tambah di Kabupaten Konawe (22/8).

Materi mengenai pengenalan produk yang berpotensi mendukung MBG disampaikan oleh narasumber terkait di Kabupaten Konawe. Peserta diperkenalkan pada pentingnya menyiapkan produk dengan memperhatikan kualitas, keamanan pangan, kontinuitas produksi, dan kesesuaian dengan kebutuhan pasar.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat mendorong kelompok untuk tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi mulai memahami kebutuhan pasar dan membangun kesiapan usaha apabila terdapat peluang untuk terhubung dengan rantai pasok MBG.

Dari Pembekalan Menuju Praktik Diversifikasi Produk

Setelah mendapatkan pembekalan, peserta mengikuti praktik diversifikasi olahan berbahan dasar ikan tuna pada hari kedua dan ketiga. Praktik menjadi bagian penting dari kegiatan karena memberikan kesempatan kepada peserta untuk menerapkan secara langsung pengetahuan yang diperoleh selama sesi pembelajaran.

Pada hari terakhir, peserta mempraktikkan pembuatan bakso ikan dan nugget ikan. Proses praktik mencakup persiapan bahan baku, pengolahan, pembentukan produk, hingga proses akhir pengolahan.

Melalui praktik tersebut, peserta tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga mendapatkan pengalaman untuk mengembangkan variasi produk yang dapat disesuaikan dengan potensi bahan baku lokal dan kebutuhan pasar.

Pendekatan praktik ini sekaligus memperkuat konsep replikasi best practice, di mana pembelajaran tidak hanya disampaikan dalam bentuk teori, tetapi diterjemahkan menjadi keterampilan yang dapat diterapkan dan dikembangkan oleh kelompok di lokasi baru.

Memperluas Dampak melalui Replikasi Best Practice

Pelaksanaan kegiatan di KNMP Sorue Jaya menjadi bagian dari upaya GEF-6 CFI Indonesia untuk memperluas dampak pembelajaran dan praktik baik yang telah dikembangkan melalui program penguatan masyarakat pesisir. Sebagai lokasi di luar wilayah utama intervensi project, kegiatan ini menjadi ruang untuk mengadaptasi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan potensi masyarakat di KNMP Sorue Jaya.

Replikasi diarahkan tidak hanya pada peningkatan keterampilan pengolahan, tetapi juga pada penguatan kelembagaan kelompok, legalitas usaha, keamanan pangan, pengembangan produk, dan akses pasar. 

Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi perempuan sebagai pelaku penting dalam rantai nilai perikanan, sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan dan ketahanan ekonomi keluarga nelayan.

Dengan demikian, replikasi best practice tidak hanya menjadi proses transfer pengetahuan, tetapi juga menjadi upaya memperluas manfaat program kepada lebih banyak perempuan pesisir dan memperkuat peran mereka dalam pembangunan ekonomi masyarakat pesisir melalui pemanfaatan sumber daya perikanan secara bernilai tambah dan berkelanjutan.

0 COMMENTS

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

0 Comments